WHAT ARE YOU LOOKING FOR?
WHO'S THERE?
Such A Nice Blog!
-
The Twelfth Month: Our First Year3 months ago
-
The last3 years ago
-
Thank you, next.7 years ago
-
-
Assalamualaikum blog ku yang udah berdebu dan banyak sarang laba-labanya.
Maaf ya sudah lama tidak di isi karena terlalu sibuk dengan urusan kehidupan nyata. Tapi kali ini, aku mau isi kembali diary virtual ku dengan cerita baru.
Tau ga, akhirnya aku berhasil untuk resign dari kantor lama ku. Ingat bertahun-tahun lalu kita selalu ingin resign, bahkan dijadikan resolusi yang ingin dicapai setiap tahunnya. Keinginan ini terwujud di tahun 2022, tentunya atas dasar pertimbangan yang kuat dan dukungan dari orang-orang terdekat. Kondisi kantor yang benar-benar tidak bisa di toleransi lagi, tidak tenang dalam menghadapi hari, stress, hingga makanan yang masuk pasti akan dimuntahkan kembali. Aku kembali lagi seperti diriku di tahun 2018. Syukurlah, aku punya keberanian juga akhirnya...
Resign dari kantor itu tidak membuat aku langsung mendapatkan pekerjaan. Memang niat hati ingin bekerja di kantor yang bukan perbankan, bahkan sempat terkabul, kurang dari sebulan menganggur mendapat offering dari perusahaan non perbankan. Sayang, tapi tidak aku ambil karena beberapa pertimbangan dan salah satunya adalah penyakit.
Kaget ga? aku beneran kok, tahun ini banyak hal baru yang aku temui, aku harus berkenalan dengan kista dan tumor mammae yang memang masih kecil namun cukup bikin kepikiran setip hari. Mungkin ini teguran untuk aku yang tidak memperdulikan kesehatan. Makan apapun yang aku inginkan dan tidak berolahraga. Sedih tapi tetap aku jalani. Untuk tumor mammae sendiri aku baru mengetahuinya sejak awal resign dari kantorku. Sempat terbesit di pikiran, kenapa baru mengetahuinya sekarang?
Setidaknya jika aku tahu akan penyakit ini saat masih bekerja mungkin aku langsung menggunakan asuransinya untuk operasi tumor.
Tapi aku yakin, Allah punya rencana lain untuk aku.
Kembali lagi urusan pekerjaan. Kenapa aku menolak untuk bergabung diperusahaan pertama padahal aku ditempatkan pada divisi yang aku sangat inginkan. Saat ini aku benar-benar memikirkan diriku sendiri. Kantor yang sangat jauh dari rumah dan sangat minim kendaraan umum, bekerja dari senin hingga sabtu dengan durasi waktu 08.00 sd 17.00, dan aku memikirkan gaji yang ku dapatkan tidak sebanding dengan pengeluaran setiap bulan nantinya. Maka, dengan berat hati aku menolak tawaran tersebut.
Saat ini, ada perusahaan perbankan yang juga ingin merekrutku. Benar, perbankan yang alih-alih aku menghindarinya malah justru aku menghampirinya. Aku memilih kembali ke dunia perbankan karena pertimbangan kantor yang tidak terlalu jauh dari rumah dan peraturan bekerja senin hingga jumat yang masuk kriteria pekerjaan yang aku inginkan. Setidaknya aku bisa berolahraga di hari sabtu dan minggu. Akupun bisa beristirahat lebih banyak dirumahh karena jarak kantor yang tidak terlalu jauh meskipun rawan kemacetan.
Aku berharap, semoga kantor baruku memiliki lingkungan kerja yang lebih baik dibanding kantor yang sebelumnya. Aku bisa bekerja dengan bahagia di kantor yang baru. Serta aku berharap semua penyakit yang ada ditubuh ku menghilang.
Aku ingin diberi kesembuhan atas kista dan tumor mamae yang ada pada tubuh ku. Aku ingin bisa menikah. Aku ingin bisa punya anak. Aku ingin melihat tumbuh kembang anak hingga menjadi nenek-nenek.
Aamiin.
Pada akhirnya semuanya tetap harus di rasakan sendirian.
Sakitnya.
Sedihnya.
Tekanannya.
Karena memang dasarnya segala masalah dari diri sendiri, ya harus diselesaikan oleh diri sendiri juga.
Mungkin saya hanya bisa berterimakasih kepada orang-orang yang mengatakan, “Kamu tidak sendirian.”
Terimakasih sudah memberikan kata-kata yang menenangkan. Tetapi diakhir, saya tidak mungkin mengajak orang lain untuk masuk ke dalam permasalahan saya, harus saya yang menyelesaikannya
sendirian.
Apa pun masalahnya, yakinlah bahwa kamu sengaja ditunjuk Tuhan untuk menjalani hidup yang sedemikian rupa itu, karena kamu mampu melewatinya, dan kamu akan berpeluang mendapatkan hadiah jika berhasil melewatinya.
Semakin ke sini semakin tidak bisa cerita apapun ke orang lain. Biasanya kalau ada hal buruk yang terjadi, harus diceritakan agar tidak stress dan bisa mendengarkan masukan dari orang lain. Semakin bertambah usia, beban yang di tempa semakin berat, semakin berfikir untuk tidak menceritakan kepada siapapun karena sadar bahwa semua orang punya masalah masing masing.
Perasaan yang saya rasakan saja sudah carut marut tidak karuan. Tulisan yang barusan saya tulis bahkan langsung saya hapus.
Lebih sering menangis sendirian. Memikirkan agar satu persatu bisa diselesaikan. Memikirkan supaya bisa merasakan kehidupan yang lebih tenang.
Bisa menenangkan orang lain tetapi menenangkan diri sendiri saja sungguh payah.
…
“Ngga ra! Lo kuat! Kuat banget malah!”
“Lo bahkan bisa sampai di titik ini sudah hebat. Hebat banget!”
“Inget ngga dulu bahkan lo ga menyangka sama sekali bisa sampai kayak sekarang.”
“Lo pasti bisa ra! Bisa jadi indira versi dewasa sesuai yang lo inginkan!”
“Percaya deh. Lo itu bukan tipikal yang gampang nyerah! Semua, semua permasalahan yang ada benar-benar lo hadapin tanpa menghindar.”
“Sudah ga udah takut, yakin dan terus yakin kalau pasti bisa melewati semuanya.”
“Ini semua hanya fase kok.”
“Yakin, apapun keputusan yang lo pilih pasti Allah akan memberikan jalan.”
-Kata saya untuk diri saya sendiri
Hai indira,
Aku adalah dirimu di masa lalu. Terimakasih telah berjuang hingga detik ini. Kuat sebagai seorang kakak, kuat sebagai wanita, dan kuat sebagai tulang punggung keluarga. Hari-hari yang kamu lalui memang tidak selalu dalam fase yang indah, tapi aku yakin kamu kuat dan akan selalu begitu.
Kamu dibesarkan oleh wanita yang hebat, Ibu mu. Kamu diajarkan ibu mu untuk menjadi pribadi yang tetap kuat, tetap semangat, dan tetap tersenyum meskipun hidup sedang berada di fase yang sulit. Kamu diajarkan untuk dapat mengambil hal positif dari setiap peristiwa. Kamu diajarkan untuk berusaha disetiap hal yang ingin kamu capai.
Aku tau, dimasa muda mu mungkin akan sulit untuk mempercayai sebuah komitmen yang dinamakan pernikahan. Atas semua kejadian yang kamu alami sedari kecil mengenai pernikahan. Aku tau ketakutan terbesarmu dalam perihal memilih orang yang tepat seperti apa. Tapi aku yakin, kelak dimasa depan kamu akan mendapatkan seseorang yang bisa menghargai dan memperlakukan kamu dengan baik sebagai seorang istri. Aku yakin, ibu kamu juga pasti mendoakan hal yang sama.
Trauma masa kecil mengenai pernikahan, aku yakin perlahan hilang. Aku yakin ra, dimasa depan seseorang yang kamu pilih adalah seseorang yang benar-benar baik. Kelak dimasa indah pernikahanmu dan ketika kamu nanti melihat postingan lama ini, aku harap kamu dapat berterimakasih kepada dirimu sendiri dan dapat bersyukur serta bahagia menjalani kehidupan pernikahan dengan baik.
Memiliki suami yang pekerja keras.
Memiliki suami yang bertanggung jawab.
Memiliki suami yang menyayangi keluarganya.
Memiliki suami yang memiliki tutur kata baik.
Memiliki suami yang dapat menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya.
Memiliki suami yang dapat menempatkan diri untuk dapat merokok diluar rumah.
Memiliki suami yang tidak ringan tangan.
Untuk diriku dimasa depan. Saat ini, dirimu dimasa lalu, sedang berjuang untuk menenangkan diri agar tidak gemetaran saat mendengat kata kata kasar dan membentak. Aku harap, dimasa depan kamu bisa semakin kuat tanpa harus merasa gemetaran tiap kali mendengal hal yang tidak enak untuk didengar.
Untuk diriku dimasa depan,
Terimakasih untuk terus kuat dan hidup. Terimakasih untuk terus selalu memberikan hal baik kepada orang lain. Terimakasih telah menjadi wanita yang berharga.
Terimakasih banyak.
Dirimu di masa lalu,
Indira Pratiwi.
I hope I can meet someone who can be trusted every words he says. Someone who doesn't break his promise. Someone who can understand the condition of his partner. Someone who is not pushy and not demands a lot of his wife and children.
I hate someone who says rude and yells. I hate someone who smokes. I hate someone who uses other people for personal gain. I hate someone who smokes.
Did I write down the word twice?
That's how it is. I really hate people who smoke.
I don't want to have a partner like my father. Because of that I don't really trust someone until I'm sure that he is the right person.
I don't mind if I don't get married anytime soon because I don't want to go through the same thing like my mother did.
Overall, though i look like hating my father but in my deepest heart i do love my father too.
Dad, I hope you are always healthy and i hope you can see your daughter will have a husband who treats me better than you. Aameen.
Today I hit myself over and over. And then freeze. Trying to control my self.
Living with trauma was suck. when it comes and situation where im alone, it can break my mood. Sometimes i want to kill my self or hit my self or i can be a stone who is not talk not doing anything sleep all the time or crying for hours without telling anyone whats the reason. I got afraid when i realise that i live with my trauma on a daily basis. I cant get over this. I need to accept this but i cant. I cant. Im scared.
I cant tell my story to people. I know its not healthy for my self, i know. I’m scared if nobodys can accept me as a human being.
God please help im dying.